Semar dan Gareng Bicara: Ketika Dalang Lupa Lakon, Rakyat yang Menjadi Korban.
TRIBUNET.News | Kota Langsa –
Di pojok panggung wayang, Semar menggaruk kepala. Gareng mendekat, tertawa pelan sambil ngguyu. “Ki Dalang, kok kayaknya lupa lakon ya”
Dialog itu bukan sekadar lawakan. Itu cara masyarakat mengingatkan pejabat publik lewat filosofi wayang. Ketika dalang lalai, Semar dan Garenglah yang bersuara, ngguyu karo ngetokke bener.
“Semar: “Dalang itu Pelayan, Bukan Raja Panggung”
Semar, sang pamomong yang bijak, ngomong pelan tapi nancep:
“Ki Dalang, wayang itu cuma boneka. Yang hidup itu lakonnya. Kalau dalang merasa paling hebat, lakon jadi kacau.
Begitu juga pejabat. Jabatan itu titipan. Kalau sudah merasa paling tahu, paling berkuasa, lupa kalau tugasnya melayani, ya rakyat yang jadi korban.
Jangan sampai pejabat sibuk ngatur sorot lampu, tapi lupa naskah belum dibaca.”
“Gareng: “Lakon Ora Jelas, Penonton Bingung”
Gareng yang nyablak langsung nembak:
“Cah, lakon kok gonta-ganti seenak’e dewe. Wingi ngomong A, dina iki ngomong B. Penonton jadi bingung, pulang nonton malah mumet.
Pejabat juga gitu. Kebijakan kok telat, info simpang siur, klarifikasi nunggu viral. Kalau dari awal sudah jelas, rakyat gak perlu panik.
Lakon yang gak jelas itu namanya bukan seni, tapi ngawur.”
“Semar Menutup: “Dalang Harus Berani Luruskan Cerita”
Semar menepuk paha Gareng pelan. “Gareng, dalang yang baik itu berani. Berani luruskan cerita, berani tegur tokoh jahat, berani akui kalau salah langkah.
Pejabat juga begitu. Diam itu kadang lebih bahaya daripada salah ngomong. Karena diam membuat rakyat menebak-nebak, dan tebakan rakyat seringnya lebih tajam dari fakta.”
“Pesan untuk Para Pejabat”
Semar dan Gareng tidak marah. Mereka hanya mengingatkan. Karena dalam wayang, ketika dalang lupa lakon, rakyatlah yang paling rugi.
Panggung bisa ditutup, lampu bisa dimatikan. Tapi kepercayaan rakyat, kalau sudah padam, sulit dinyalakan lagi.
Kini publik menunggu: apakah para pejabat mau kembali jadi dalang yang menjaga lakon, atau membiarkan Semar dan Gareng terus bersuara dari pinggir panggung,”
(Penulis, Hendrick)
