Kebenaran Akan Terus Hidup, Sekalipun Membungkamnya dengan Senjata
TRIBUNET.News | Suara yang lirih, tetapi tak pernah benar-benar padam. Dalam sajak-sajaknya, kebenaran bukan sesuatu yang mewah. Ia sederhana, lahir dari dapur rakyat, dari upah yang tak cukup, dari tanah yang dirampas, dari jerit yang tak diberitakan.
Senjata bisa merampas tubuh, tetapi tak pernah benar-benar mampu membunuh suara. Sebab kebenaran tidak tinggal di satu mulut saja. Ia berpindah dari bibir ke bibir, dari pamflet ke tembok kota, dari bisik-bisik di pasar ke teriakan di jalanan. Kau bisa membungkam seorang penyair, tetapi kau tak akan pernah selesai membungkam kenyataan.
Percaya bahwa kata-kata adalah perlawanan. Kata-kata yang jujur tumbuh seperti rumput liar diinjak, dibakar, tetap muncul kembali. Karena kebenaran tidak meminta izin untuk hidup. Ia tumbuh dari luka, dan luka rakyat terlalu banyak untuk disembunyikan selamanya.
Mereka yang takut pada kebenaran biasanya bersandar pada ancaman. Mereka mengira ketakutan adalah cara paling ampuh untuk menjaga kuasa. Padahal justru dari ketakutan itulah keberanian dilahirkan. Dari pembungkaman, lahir tekad untuk bersuara lebih keras.
Kebenaran mungkin berjalan tertatih, mungkin tersembunyi untuk sementara waktu. Tetapi ia sabar. Ia menunggu. Dan pada akhirnya, ia akan menemukan jalannya sendiri karena sejarah selalu mencatat, bukan siapa yang paling keras menekan, melainkan siapa yang paling teguh memperjuangkan kebenaran. (*)
(Author: Rizco Nugraha)






