Cerita Rakyat, menghibur hati ( Opini)
TRIBUNET.News | Petuah Semar kepada Gareng dalam pagelaran wayang kulit semalam kembali menggugah penonton. Di sela canda, punakawan bijak itu menyelipkan pesan mendalam tentang proses menuntut ilmu.
“Reng, kamu itu perlu petualangan lebih jauh untuk memahami konteks dalam menuntut ilmu tentang dunia pewayangan, Reng,” ucap Semar dengan gaya khasnya yang datar namun mengena.
Kalimat itu diucapkan setelah Gareng melontarkan kritik spontan kepada tokoh Eyang yang baru muncul di panggung. Bagi penonton, teguran Semar terasa seperti tamparan halus bagi generasi muda yang kerap cepat menilai tanpa memahami akar persoalan.
Dalang dan pegiat budaya yang hadir menilai, dialog singkat tersebut sarat makna tentang etika belajar dan tata krama terhadap sesepuh. Semar tidak memarahi, ia mengajak Gareng untuk merendahkan hati dan memperluas pengalaman.
“Ilmu tidak cukup didapat dari permukaan. Perlu pengalaman, waktu, dan kerendahan hati untuk benar-benar memahami,” ujar salah satu penonton seusai pagelaran.
Pagelaran di Pendopo Taman Budaya itu membuktikan bahwa wayang kulit masih relevan sebagai media pendidikan karakter. Lewat humor dan sindiran, Semar kembali mengingatkan bahwa kebijaksanaan lahir dari proses panjang, bukan dari sekadar melihat sekilas.
“Wayang kulit bukan sekadar hiburan. Ini cermin kehidupan yang tetap relevan di tengah derasnya arus globalisasi,” kata seorang pegiat budaya yang hadir.
Malam itu, petuah Semar untuk Gareng menjadi pengingat bagi semua: sebelum mengkritik, perbanyak dulu perjalanan dan pemahaman. (HR)





