Tribunet.news / Kabupaten Bandung Barat – Kuatnya budaya lisan di tengah masyarakat dinilai menjadi penghambat utama dalam percepatan budaya literasi. Hal itu ditegaskan Camat Cikalongwetan, Dadang A. Sapardan, saat menjadi pembicara dalam gelar wicara bertema Solusi Literasi Pedesaan di Bale Pare Kota Baru Parahyangan, Jumat (13/02/2026).
Menurutnya, budaya lisan yang telah mengakar selama ratusan bahkan ribuan tahun membentuk kebiasaan masyarakat yang lebih mengandalkan tutur daripada membaca. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi para pegiat literasi dalam menumbuhkan budaya baca yang kuat dan berkelanjutan.
“Pemajuan literasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus berkesinambungan, terintegrasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hajatan Duren-keun dan Pameran Buku yang digelar oleh GPMB Kabupaten Bandung Barat bersama berbagai unsur pendukung, yang berlangsung pada 11–17 Februari 2026.
Dadang menilai, literasi sekolah saat ini telah menunjukkan perkembangan yang relatif lebih maju. Karena itu, perhatian lebih perlu diarahkan pada penguatan literasi keluarga dan literasi masyarakat sebagai fondasi utama.
Ia menekankan bahwa keluarga menjadi titik awal pembentukan kebiasaan membaca. Tanpa dukungan dari lingkungan rumah, upaya literasi di sekolah tidak akan optimal.
Selain itu, ia juga menyoroti pergeseran makna literasi di era digital. Literasi tidak lagi sebatas membaca buku fisik, tetapi juga mencakup kemampuan memahami dan menyaring informasi dari berbagai platform digital.
Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat harus memiliki kecakapan untuk memilah konten yang bermanfaat dan bernilai positif.
“Masyarakat harus dibekali kemampuan menilai agar mampu menyortir informasi yang tidak bermanfaat, khususnya di media digital,” pungkasnya.
Selain Camat Cikalongwetan, diskusi tersebut turut menghadirkan Kepala Disarpus KBB, Hery Pratomo, serta Ketua Forum TBM Bandung Barat, Herdi Sardi. Ketiganya menyampaikan pandangan strategis untuk memperkuat gerakan literasi, khususnya di wilayah pedesaan.
Rangkaian Hajatan Duren-keun sendiri diisi dengan beragam kegiatan, mulai dari pesta makan durian, pameran dan bedah buku, musikalisasi puisi, klinik bisnis, hingga pertunjukan musik yang melibatkan masyarakat luas.
Dien





