Senyum Dibalik Mikroskop: Jejak Prof. Garnadi Menuju Sang Khalik

Dinn Wahyudin

Almarhum Garnadi Prawirosudirjo bukan hanya seorang ilmuwan. Ia adalah pengajar yang menjadikan sains sebagai ruang perenungan. Guru Besar Biologi dan Rektor IKIP Bandung (1971–1978) itu mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk dunia pendidikan sunyi, tekun, dan konsisten.

Di ruang kerjanya yang sederhana, mikroskop di tangan beliau bukan sekadar alat pembesar lensa. Ia menjelma menjadi jembatan antara fakta dan makna, antara sel dan kesadaran, antara ilmu dan Sang Khalik. Ia kerap berkata, semakin dalam ilmu ditelusuri, semakin dekat manusia pada Penciptanya. Pengetahuan bukan menjauhkan, justru mendekatkan.

Biologi yang Tersenyum

Kuliah bersama Prof. Garnadi tidak pernah terasa kering. Ia berbicara perlahan, terstruktur, tetapi selalu ada selipan senyum yang membuat mahasiswa berpikir ulang tentang hidup. Dunia serangga, yang bagi sebagian orang tampak sepele, di tangannya berubah menjadi cermin sosial yang halus.

Salah satu kisah favoritnya adalah tentang koloni semut bidang yang memang menjadi kepakarannya. Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh pekerjaan dalam koloni dilakukan oleh semut betina pekerja. Mereka mencari makan, merawat larva, membangun sarang, menjaga keberlangsungan hidup komunitas. Mereka tidak bereproduksi, tidak tampil sebagai simbol kejayaan, dan tak pernah dielu-elukan.

Sebaliknya, semut jantan hadir hanya pada musim tertentu untuk kawin dengan ratu, lalu perannya selesai. “Game over,” katanya ringan.

Mahasiswa tertawa. Namun itu bukan tawa remeh. Itu tawa yang merasa disentil.

Bagi Prof. Garnadi, alam berbicara tentang fungsi, bukan gengsi. Tentang efisiensi, bukan simbol. Ia tidak pernah menjadikannya bahan sindiran kasar. Humor beliau selalu elegan—lebih berupa ironi biologis yang mengajak manusia bercermin, bukan menghakimi.

Ketika membahas pola aktivitas semut, ia juga meluruskan kesalahpahaman umum. Tidak semua semut aktif malam hari. Aktivitas mereka ditentukan oleh adaptasi: suhu, kelembaban, predator, dan ketersediaan pangan. Di daerah tropis, banyak spesies lebih aktif saat suhu menurun.

Lalu ia tersenyum dan berkata,

“Alam tidak mengenal stereotip. Alam hanya mengenal adaptasi.”

Di situlah letak keindahan pedagoginya. Ia tidak menertawakan alam. Ia justru mengajak kita menertawakan kecenderungan manusia yang gemar menyederhanakan realitas.

Ilmu Sebagai Jalan Pulang

Bagi Prof. Garnadi, ilmu dan iman bukan dua kutub yang saling bertentangan. Keduanya adalah dua cara membaca kenyataan dari sudut yang berbeda namun saling melengkapi. Ilmu membantu manusia memahami bagaimana alam bekerja. Iman memberi arah tentang untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Sebagai ahli biologi, ia justru semakin takjub pada kompleksitas kehidupan. Keteraturan sistem alam, harmoni antar unsur biologis, dan ketepatan mekanisme kehidupan tidak berhenti pada penjelasan teknis. Semua itu melahirkan rasa kagum dan kerendahan hati.

Ilmu, dalam pandangannya, adalah perjalanan intelektual yang sunyi. Sebuah ziarah pikiran yang bermuara pada pengakuan akan kebesaran Yang Maha Mengatur.

Gagasan itu pernah ia tuangkan dalam karya-karyanya, seperti Kehidupan Serangga yang Mengagumkan (1974) dan Integrasi Ilmu dan Iman (1975). Buku-buku tersebut menegaskan satu hal: pengetahuan tanpa nilai bisa kehilangan arah, sementara iman tanpa pemahaman bisa kehilangan kedalaman.

Ilmu menjelaskan dunia sebagaimana adanya.

Iman membimbing manusia bagaimana seharusnya hidup di dalamnya.

Ketika keduanya berjalan bersama, manusia tidak hanya menjadi cerdas tetapi juga bijaksana.

Doa dan Penghormatan

Kini beliau telah kembali kepada Sang Khalik. Semoga Allah SWT menempatkan Almarhum di tempat yang penuh kemuliaan di Alam Barzah.

Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa ‘afihi wa‘fu ‘anhu.

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia.

Aamiin Ya Mujibasa’ilin.

Jejaknya tinggal di ruang kelas, di buku-buku, dan di senyum kecil mahasiswa yang tersadar bahwa seekor semut pun dapat mengajarkan kebijaksanaan hidup.

 Dien Yoyo

Pos terkait